Waspada, Modus Penipuan Gaya Baru Nyasar ke Kyai dan Pengasuh Ponpes

infogeh.net, Bandar Lampung – Modus baru penipuan kini menyasar sejumlah kyai dan pengasuh pondok pesantren (ponpes) di Lampung. Menurut Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Bandar Lampung, Ismail Zulkarnain, komplotan ini sering mengaku staf para pejabat.

“Ini modus penipuan gaya baru. Ada yang mengaku staf pemda, utusan gubernur, walikota, bupati, hingga dari kesra. Modusnya sama, pura pura mau ngash bantuan ke pondok. Minta profil pondok dan nomor rekening pondok. Lalu dia kirim editan struk transfer rekening bank Rp10 juta,” kata Ismail Zulkarnain, Lampungpro.co, Senin (8/2/2021).

Aksi penipuan itu terbongkar pada saat uang transferan Rp10 juta itu dicek ke bank, ternyata tidak ada.

“Aksi penipuan ini banyak makan korban pimpinan pondok pesantren. Jadi, waspadalah jangan tergiur dengan iming-iming bantuan,” ujar Ismail Zulkarnain.

Modus lainnya, meminta kirimin uang ke pondok pesantren dengan dalih ada santri yang mau dioperasi.

“Macam macam caranya, pernah kita telepon pondok yang katanya temannya itu, lalu diangkat. Ada yang pura-pura menangis. Akhirnya ada beberapa ustad kena hipnotis dan luluh hatinya, lalu mengirim Rp4 juta,” ungkapnya.

Menurut Ismail, beberapa kyai bahkan kehilangan mobil dengan dalih dipinjam untuk membawa santri ke acara syukuran warga yang mau umrah.

“Teman kami sudah banyak yang kehilangan mobil karena pelaku pura-pura selamatan umrah,” kata dia.

Pengalaman lain disampaikan Ustad Zainal Abidin, pengasuh ponpes di Natar, Lampung Selatan. Dia nyaris kena tipu sebulan lalu.

“Ada orang tampang gagah datang ke pondok dan ketemu tukang. Modusnya, dia minta anak yatim saya satu untuk di ajak ke Pasar Natar. Dia bilang mau mengirim sembako ke pondok. Tapi harus ada dokumen foto saat penyerahan. Barang diantar angkot ke pondok,” kata Zainal.

Saat ditanya, pelaku tidak mengaku dari mana dan dari instansi apa. Tampangnya, seperti tentara dengan cukuran rambut cepak. Ahirnya santri diutus satu untuk ikut pelaku ke Pasar Natar.

“Namun karena curiga, tukang saya suruh ngikutin pakai motor dan pelaku naik angkot berdua sama santri. Sampai di Pasar Natar, santri disuruh menunggu di depan trotoar Pasar Natar. Pelaku masuk pasar alasan mau ambil barang. Ternyata, satu ditunggu ngak muncul. Akhirnya, santri dibawa pulang,” ungkapnya.