Tiga Marga Pesisir Barat Lestarikan Tradisi Kekiceran

GERBANGREPUBLIK.COM (Krui). Tradisi unik dalam  memeriahkan Silaturahmi Idul Fitri di Bulan Syawal di rayakan 3 Marga  yangsecara administratif tergabung dalam 2 kecamatan yakni Kecamatan Lemong dan Pesisir Utara di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.

Tiga Marga yakni Marga Pugung Malaya, Marga Pugung Penengahan dan Marga Pugung Tampak atau Lebih dikenal dengan sebutan daerah Pugung Krui.

“Kakiceran adalah Ajang Silaturahmi Idul Fitri dengan pentas tari yang diselenggarakan oleh setiap pekon (desa) dalam 3 Marga Adat tersebut, yang diikuti penari atau anak tari yang mewakili tiap pekon yang ada 3 Marga tersebut. Pekon yang jadi Tuan rumah bergantian mulai 1 Syawal sampai semua pekon selesai. Acara dimulai dari jam 21.00 atau Jam 22.00 malam sampai selesai, umumnya jam 06.00 atau jam 07.00 Pagi. Lokasi Kakiceran ditempat terbuka ditengah Pekon dilengkapi Meja, Kursi, Penerangan dan Sound System seadanya”, Ungkap Kepala Dinas Pariwisata Pesisir Barat Audi Marpi.

“Setiap pekon dalam 3 Marga menjadi tuan rumah, contoh Marga Pugung Malaya yang terdiri atas 7 pekon tuha (Kampung Tua) yakni Malaya, Cahaya Negeri, Lemong, Pardahaga, Tanjung Way Batang, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati mengadakan Kakiceran dengan diundi 1 sampai 7 Syawal. Sedangkan 2 pekon pemekaran yakni Rata Agung dan Sukamulya tidak mengadakan Kakiceran tapi Tradisi baru yaitu Pesta Rakyat alias Organ Tunggalan saja”, Terang Audi yang pernah menjabat Camat Lemong tersebut.

“Marga Pugung Penengahan yang meliputi 4 Pekon tuha yakni Penengahan, Bandar, Bambang dan Pagar Dalam juga mengadakan Kakiceran. Sedang Sukabanjar yang secara adat masuk Marga Pugung Penengahan, tapi saat ini secara administratif sudah masuk Kecamatan Lumbok Seminung Kabupaten Lampung Barat tidak mengadakan Kakiceran”, Jelas Kadis yang juga berasal dari Pugung Penengahan.

“Marga Pugung Tampak terdiri dari 9 Pekon tuha dan 3 pekon pemekaran. Semua pekon tuha yakni Walur, Padang Rindu, Negeri Ratu, Kuripan, Kerbang Langgar, Kerbang Dalam, Balam, Way Narta dan Kota Karang mengadakan kakiceran. Sementara pekon Baturaja dan pemekarannya Gedau serta Pemancar tidak melaksanakan hanya organ tunggalan saja yang populer disebut Pesta Halal Bi Halal”, Tambah Mantan Camat Pesisir Utara itu.

“Jadi, Kakiceran ini berlangsung di 3 tempat dalam 1 malam di 3 Marga tersebut. Penarinya adalah anak-anak perempuan biasanya usia Kelas 2 Sekolah Dasar (SD) sampai Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja, dulu sampai usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Mewakili pekon nya masing-masing, Mereka ini disebut ANAK TARI. Sedang yang mengajar menari alias Koreografer nya Muli (gadis) dan Meranai (bujang) di desa masing-masing, Mereka ini disebut GURU TARI. Jika dalam 1 malam ada 3 Lokasi Kakiceran maka Anak Tari dan Guru Tari dibagi menjadi 3 Kelompok dengan tujuan 3 lokasi tersebut. Kebanggaan bagi mereka semua bisa mewakili dan mengharumkan nama pekon nya masing-masing”,  Pungkas Audi Marpi yang juga pernah menjadi Pengentuha Meranai (Kepala Bujang) dan Guru Tari dizamannya.

Hadiah menarik disediakan oleh Tuan Rumah dari Mulai Buku, Alat Tulis, Piala, Uang Saku sampai dengan Kambing bahkan Sapi. Biaya penyelenggaraan, hadiah, biaya makan minum Kakiceran berasal dari Swadaya segenap lapisan masyrakat pekon masing-masing. Mulai dari muda-mudi, Pedagang, PNS, Pegawai Swasta sampai perantau asal pekon yang ada diluar daerah menyumbang demi suksesnya acara kakiceran tersebut. Banyak perantau yang pulang kampung karena kangen dengan kedayokan (Acara) Kakiceran ini. Bahkan banyak diantara mereka berpatokan kembali kedaerah rantaunya setelah kakiceran selesai.

Minggu lalu Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal dan Istri serta jajaran, Ketua Komisi C DPRD yang juga berasal dari Dapil I Pesisir Barat Ripzon Effendi, Anggota DPR RI Henry Yosodiningrat yang sedang pulang kampung Asal Ayah nya bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Pesisir Barat Oking Ganda Miharja menonton Kakiceran bersama di kampung halaman Pekon Pugung Penengahan Kecamatan Lemong Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.

Dalam sambutannya Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal mengungkapkan, “Saya sangat menghargai upaya masyarakat Pugung melestarikan tradisi yang menjunjung adat dan budaya. Semenjak menjabat bupati ini kali kedua Saya menonton Kakiceran. Tahun lalu saya menonton di Pekon Lemong, tahun ini di pekon Pugung Penengahan. Kedepan Insya Allah bisa direalisasikan bantuan dana penyelenggaraan Kakiceran dan bantuan pembangunan Rumah Adat Marga”.

“Pada 2016 lalu Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat melalui Dinas Pariwisata mengusulkan Kakiceran ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Kementerian Pariwisata Repuplik indonesia dan disetujui. Resmilah Kakiceran ini sebagai satu-satunya Warisan Budaya Tak Benda asal Kabupaten Termuda di Provinsi Lampung ini” Tutup Udo Lal. (*/rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here