Seorang Ibu Tega Bunuh Kedua Anaknya di Lampung Selatan

infogeh.net, Lampung Selatan – Dua bocah kakak beradik, warga Dusun 009, Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Gilang Dirgantara (5) dan Sekar Maharani (11) meregang nyawa di tangan ibunya, Cicip Jumariah (28) pada Selasa, 21 April 2020 sekitar pukul 11.30 WIB. Cicip menganiaya kedua anak kandungnya tersebut tanpa sebab yang jelas.

Jenazah Sekar Maharani, siswi kelas V Sekolah Dasar tersebut saat ini masih berada di RSUD Bob Bazar Kalianda untuk dilakukan outopsi. Sebelum menganiaya putri sulungnya hingga tewas, Cicip diduga kuat pelaku penganiayaan Gilang Dirgantara (5) hingga tewas pada Jumat, 17 April 2020 lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim, Rabu, 22 April 2020 dari sejumlah tetangga dan orang tua Cicip Jumariah. Cicip Jumariyah selama dua tahun berpisah dengan suaminya Supriyanto (35). Namun keduanya rujuk kembali sejak dua bulan terakhir.

Sejak berpisah tingkah laku Cicip membuat tetangganya bingung, sebab kadang terlihat normal, namun tak jarang mengamuk seperti orang kesurupan.

Menurut orang tua terduga pelaku, Mbah Markam (80), sejak pisah dengan suaminya perilaku cicip kerap berubah-ubah. Kadang waras kadang mengamuk tanpa alasan jelas. Saat dalam kondisi waras, Cicip merupakan perempuan yang santun dan pendiam.

“Namun kalau sudah kumat, siapa saja yang ada didekatnya menjadi sasaran kemarahan anak saya itu. Sampai bosan tetangga disini,” kata Mbah Markam di kediamannya, Rabu, 22 April 2020.

Beberapa kali tetangga Cicip pernah berusaha meredam emosi pelaku saat menganiaya kedua anaknya tersebut. Namun di luar dugaan tetangga yang berniat baik tersebut justru menjadi sasaran Cicip.

Meski mengalami gangguan jiwa Cicip belum pernah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Dugaan sementara, penyakit Cicip sedang kambuh saat menganiaya Gilang Dirgantara hingga tewas pada Jumat, 17 April 2020.

Lima hari kemudian, Selasa 21 April 2020, Cicip kembali menganiaya Sekar yang sedang nonton telivisi hingga terkapar. Setelah mengangkat tubuh anaknya ke kamar, Cicip menyusul orang tuanya Mbah Markam dan Mbok Sipah ke ladang.

Di kebun itu, Cicip menceritakan kepada orang tuanya kalau Sekar tidur pulas dan susah dibangunkan. Mendengar cerita anaknya yang janggal, kedua orang tua Cicip bergegas pulang ke rumah untuk melihat kondisi cucunya tersebut.

Sampai di kamar cucunya, Mbah Markam melihat cucunya terbujur kaku dalam dekapan Supriyanto. Melihat kenyataan itu, kedua orang tua Cicip meminta bantuan warga.

Tenda duka pun berdiri, dan beberapa warga serta keluarga Cicip sepakat mengikat terduga pelaku dan memanggil polisi untuk mengamankan perempuan yang diduga mengalami gangguan jiwa tersebut. Penganiayaan yang dilakukan Cicip terhadap Sekar terdengar oleh tetangga. Hal itu diungkapkan oleh Robiyah.

“Saat kejadian saya dengar suara Cicip marah-marah sambil menganiaya anaknya, karena sempat mendengar almarhum Sekar nangis. Sementara Supriyanto sedang ke bengkel. Padahal pagi harinya, sebelum musibah ini terjadi, mereka sempat naik motor bersama,” ujar tetangga Cicip.

Berita dan Informasi ini sudah diterbitkan dihalaman resmi lampost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here