Sekum IKA : Pembangunam Masjid UIN Ada Yang Tidak Beres

Sekretaris Umum Ikatan Alumni (IKA)  Universitas Islam Negeri (UIN) Radin Intan Bandar Lampung Heri Ch Burmuli saat memberi keterangan kepada awak media, Senin (29/5/2017) .

GERBANGRUBLIK.COM – (Bandarlampung). Sekretaris  Umum Ikatan Alumni (IKA) Uiniversitas Islam Negeri(UIN) Raden Intan Lampung Heri Ch Burmeli prihatin terhadap persoalan terkait pembangunan Masjid  UIN Radin Intan Lampung .

” pada prinsipnya pihaknya menyesalkan terhadap demontrasi terkait sumbangan pembangunan masjid, pembangunan masjid kok diributkan,” ujarnya.Senin (29/5/2017).

Pembangunan Masjid pada dasarnya niatan baik, namun dirinya tidak setuju dengan adanya serangkaian aksi penolakan seperti pembakaran, pemblokiran jalan, aksi anarkis, membawa orang-oang luar kampus yang akhirnya dilakukan tindakan represif dan penahanan mahasiswa.

“Saya enggak setuju saat itu. Tapi lama-lama saya melihat ada sesuatu yang tidak beres dan transparansi dari pihak Rektorat sendiri,” ucapnya.

Karena kata Heri, alangkah banyak pembangunan Masjid di desa-desa, kecamatan-kecamatan dengan tidak ada masalah dalam mengelola masalah keuangan, ia mempertanyakan pembangunan tempat ibadah di kampus UIN yang terus  diprotes oleh mahasiswanya bertahun-tahun.

Ia menegaskan, jika ada data soal penyimpangan yang dilakukan Rektorat, IKA UIN siap menampung dan mendorong mahasiswa untuk memperkarakan Rektor UIN Raden Intan Lmapung Moh. Mukri ke ranah hukum.

“Laporkan ke Kepolisian. Agar jadi pembelajaran bagi Rektorat UIN untuk lebih transparan,” ujarnya.

Alasannya kata dia seperti tadi, di mana-mana banyak pembangunan Masjid yang tidak diprotes seoperti di UIN Raden Intan Lampung, malah saya mendengar dana pembangunan Masjid dari Rp 8 miliar membengkak menjadi Rp 34 miliar .

“Membengkak berkali lipat yang saya dengar,” tendasnya.

 Wajar jika orang bahkan warga kampus mempunyai kecurigaan soal uang pembangunan Masjid UIN Raden Intan Lampung.

“Sudahlah mahasiswa ngadu saja ke penegak hukum, bila perlu kami dorong masalah ini. Ini kan memalukan,”.

“UIN Raden Intan yang seharusnya dipercaya kok kayak gini. Kalo enggak jangan buat Masjid yang gede, kalo enggak ada duitnya, “ sarannya.

Ia berujar, sikap Rektorat harusnya lebih terbuka, terlebih di beberapa media menyebut UIN Raden Intan Lampung bicara ‘Pelit Informasi’, bahkan kemarin ada lembaga yang menggugat UIN di sekretariat Komisi Informasi karena tertutup informasi.

“Saya sesalkan itu. Enggak boleh itu. Pak Mukri enggak selamanya jadi Rektor,”. Gubernur, bupati/wali kota bisa dilengserkan apalagi seorang Rektor,”.

“Jadi enggak selamanya punya jabatan, harus mawas diri,” kata Heri.

IKA UIN Raden Intan pernah melakukan komunikasi dengan Rektor UIN bahkan sampai menangis pada alumni, karena melihat polemik yang ada di kampus, saat ini tepat 1 tahun IKA UIN berdiri dan tepat 1 tahun aksi anarkis di UIN terjadi. Kami lihat kejadian itu, ada apa dengan UIN?.

“UIN harus terbuka. Kalo enggak ada dana ya hentikan. Audit benahi dulu pembangunan Masjid itu. Enggak boleh ada sumbangan-sumbangan,”.

“Saya minta Tim Saber Pungli turun ke UIN Raden Intan,” tegasnya.

Disinggung apakah transformasi Institut Agama Islam Negeri(IAIN) menjadi UIN dipaksakan atau terburu-buru melihat kinerja Rektorat UIN yang belum bisa mengayomi warga kampusnya?.

“Enggak terburu-buru,”.

Cuma kata Heri birokrasi di UIN hari ini harus dirubah, jagan ada lagi masalah sumbagan Masjid, harus ada perubahan yang signifikan, contohnya saja sumbangan Masjid kok sampai demo. Saya menyesal sebagai alumni terjadi seperti itu.

Komunikasi IKA UIN Raden Inatan dengan Rektorat pernah terjalin, pun hanya normatif, Rektor Mukri bercerita akan membangunan Masjid yang megah, yang bisa menjadi kebanggaan warga kampus UIN dan sebagainya.

Tapi di satu sisi kami melihat, jika kebijakan Rektorat membebani mahasiswa, baiknya ditinjau ulang, jangan membebani mahasiswa apalagi dunia tengah sulit masalah keuangan.

“Pokoknya jangan bebani mahasiswa,” ucapnya berulang.

Disinggung apakah sikap Rektor Mukri mudah diajak komunikasi dengan IKA UIN?.

“Saya males komunikasi dengan Rektor. Hari ini bilang tempe, besok bilang kedelai,”.

“Ngomong hari ini A, besok B,”.

Rektor Moh Mukri kata Heri, jika memang sampai terbukti tidak bisa mempertanggungjawabkan dana pembangunan Masjid.

“Enggak menutup kemungkinan copot saja(copot Rektor Mukri),” sarannya.

 “Ngurus Masjid gitu aja enggak beres,” ucapnya.

 Rektor Moh Mukri kata dia, selalu berkata sudah melakukan kerjasama dengan Polda Lampung dan Kejati. Saya sempat bertanya pada pejabat teras Polda Lampung yang melakukan kerjasama.

“Bohong. Ngomong Polda sudah kerjasama dengan UIN,” tambah Heri Ch Burmuli .(rls/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here