Sedih ! Sebungkus Kado untuk Suami dari Korban Sriwijaya Air SJ 182

infogeh.net, Nasional – Arneta Fauzi (39), bersama tiga anaknya; Zurisya Zuar Zai (8), Umbu Kristin Zai (2), dan Faou Nontius Zai (6 bulan), berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1), dengan riang.

Saat itu ia hendak menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 menuju Pontianak, Kalimantan Barat, menyusul suaminya, Yaman Zai, yang lebih dulu ada di kota itu. Dia juga telah menyiapkan jam tangan dan sepatu sebagai hadiah untuk Yaman yang bekerja sebagai pelaut itu.

Sebelum pergi ke bandara, Arneta sempat meminta dibuatkan sayur sop ke asisten rumah tangga (ART) nya, Yuyuk. Ia pun makan banyak.

“Terakhir sebelum pergi, dia (Arneta) kasih uang ke saya Rp100 ribu, buat jajan, katanya. ‘Saya titip rumah ya’. Terus dia dandan, medok, pas mau pergi itu dia nyanyi,” jelas Yayuk, menirukan perbincangannya dengan Arneta, ditemui di rumahnya, di Serang, Senin (11/1).

Arneta bersama tiga anaknya kemudian berangkat ke Bandara Seotta dari rumahnya di Perumahan Taman Lopang Indah, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, pukul 08.30 WIB.

Sesampainya di bandara, Yayuk menyebut wajah Arneta pucat dan tidak pamitan ke dirinya. Hanya dua anaknya yang melambaikan tangan ke arah dirinya.

“Dia bilangnya mau nyusul suami. Pergi sama anaknya, saya ikut nganterin ke bandara, anaknya tiga,” ucap dia.

Hingga sore, tak ada kabar Arneta sampai di Pontianak. Sang suami, Yaman, menelpon keponakannya di Kota Serang. Karena khawatir, Yayuk kemudian menyalakan televisi dan melihat ada kecelakaan pesawat Sriwijaya Air.

“Bapaknya telepon ponakannya, [lalu saya bilang] coba setel (nyalakan) televisi, eh iya itu di TV ada. Dia bawa jam tangan buat suaminya, sepatunya mah iya enggak kebawa,” jelasnya.

Sebelum kejadian itu, Arneta beserta ketiga anaknya, dua kali gagal berangkat menemui suaminya karena keterlambatan mendapat hasil rapid test antigen.

“Mama Umu (panggilan Arneta) itu udah dua kali pulang. Yang pertama itu iya selamat. Ibu itu orang baik, anaknya juga baik-baik. Semoga ada mukjizat ya,” harapnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang mengaku turut berbela sungkawa dan sudah mengirimkan tim ke rumah duka untuk meminta data dan membantu keluarga korban mendatangi posko crisis centre.

“Pemerintah Kota turut berbela sungkawa, turut berduka cita atas meninggalnya satu keluarga, sekarang sudah mengirim tim ke domisili. Untuk menanyakan yang sebenarnya, data. Insyaallah akan ada bantuan dari pemerintah,” kata Wali Kota Serang Syafrudin, kepada awak media, Senin (11/1).

Yaman Zai sendiri sudah bersiap menjemput istri dan tiga anaknya di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Sabtu (9/1). Begitu mendapat kabar duka, ia tak mampu menahan isak tangisnya.

“Ada istri dan anak-anak saya. Anak saya tiga. Tolong ya Allah, anak saya,” lirihnya.

“Saya bekerja di sini keluarga mau nyusul liburan. Satu tahun lebih bekerja di sini. Saya ke Bandara mau jemput,” sambung dia.

Menurut Yaman, ia terakhir melakukan kontak dengan keluarga kecilnya sebelum pesawat berangkat.

“Saya orang Sumatra Utara, jadi keluarga saya ke sini untuk liburan, karena saya kerja di sini. Tadi kontak saya terakhir sudah di pesawat tadi. Ini sekarang saya telepon belum datang dan tidak aktif,” ujarnya.

Nurul, kakak dari Arneta Fauzi, tak menyangka adiknya itu menaiki pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

“Bulan Desember itu dia ngajak saya liburan ke Kalimantan, Pontianak. Cuma saya menolaknya, jadi saya enggak jadi berangkat, cuma dia,” kata Nurul, ditemui di di Posko Antemortem-DVI Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Senin (11/1) siang.

“Terus kirain saya dia enggak ini, enggak naik pesawat itu gitu. Jadi saya juga kaget,” ucap dia.

Ia mengaku telah mendapat informasi dari pihak kepolisian terkait pengumpulan data di Posko Antemortem itu, bertujuan untuk proses identifikasi jenazah korban pesawat Sriwijaya Air yang sudah ditemukan.

“Kita masih (tunggu) bukti-bukti yang jelas, yang akurat baru bisa ini,” ucap dia.

Berita dan informasi ini diterbitkan terlebih dahulu dihalaman resmi cnnindonesia