Sedih! Kisah Tenaga Medis di Tengah Pandemi Corona, Diusir dari Indekos hingga Ditampar Satpam

infogeh.net, Nasional – Stigma negatif terhadap sejumlah tenaga medis di tengah pandemi virus corona (Covid-19), banyak bermunculan di daerah-daerah. Menjadi garda terdepan dalam penanganan virus corona atau Covid-19, yang terus menyebar di Indonesia, ternyata tak seindah yang dibayangkan oleh para tenaga medis tersebut.

Berikut, kumpulan kisah para tenaga medis terutama perawat, selama pandemi virus corona di Indonesia. Tenaga medis adalah garda terdepan dalam penanganan virus corona atau Covid-19 yang terus menyebar di Indonesia.

Bukannya tak merasa cemas, tapi besarnya rasa tanggung jawab membuat nyali mereka tak gentar. Para perawat berani menanggung risiko yang mungkin saja bisa menimpa diri mereka di tengah pandemi virus corona. Namun tidak semua orang menyadari besarnya pengorbanan tersebut. Ironisnya, stigma hingga tindakan tak menyenangkan masih saja ada.

Berikut kisah-kisahnya:

1. Di Semarang, Jenazah Perawat Positif Corona Ditolak Warga
Jenazah seorang perawat RSUP Dr. Kariadi Semarang yang dinyatakan positif Corona, ditolak oleh sekelompok warga di Desa Sewakul, Ungaran. Sewakul, Ungaran dipilih sebagai lokasi pemakaman lantaran ayah sang perawat juga dimakamkan di tempat tersebut.

“Keluarga meminta dimakamkan di Sewakul Ungaran Timur agar dekat dengan makam ayahnya,” kata Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Semarang Alexander Gunawan.

Awalnya tak ada penolakan. Namun di hari pemakaman, sekelompok warga tiba-tiba tak menerima jenazah perawat tersebut. “Oleh keluarga kemudian dimakamkan di Bergota makam keluarga RS Kariadi Semarang, karena beliau bertugas di sana,” ujar dia.

Buntut penolakan pemakaman, tiga orang tokoh masyarakat di Ungaran ditangkap. Mereka diduga memprovokasi 10 warga dan memblokade jalan masuk menuju pemakaman.

Direktur Reskrimum Polda Jateng Kombes Budi Haryanto menjelaskan, tiga pelaku diduga melanggar Pasal 212 KUHP dan 214 KUHP serta Pasal 14 ayat 1 UU no 4 tahun 1984 tentang penanggulangan wabah.

Menyusul kejadian ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta maaf. Ia memastikan, jenazah pasien positif yang telah meninggal tak akan menularkan virus. “Para perawat, dokter dan tenaga medis tidak pernah menolak pasien, kenapa kita tega menolak jenazah mereka?” ungkap Gubernur Ganjar.

2. Perawat RSUP Persahabatan Terpaksa Angkat Kaki dari Indekos
Para staf medis dan perawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan memilih angkat kaki dari indekos mereka lantaran mendapat perlakuan diskriminatif. Hal itu dibenarkan oleh Direktur RSUP Persahabatan Rita Rogayah.

Kuatnya stigma tetangga indekos membuat perawat RSUP Persahabatan memilih pergi. “Mereka tidak nyaman karena ada stigma, mereka bekerja di RSUP Persahabatan sebagai rumah sakit infeksi,” kata dia.

“Sehingga mereka kalau kembali ke rumah, mereka merasa sepertinya menularkan Covid-19 dan membawa virus ke rumah. Lingkungan itu menstigma mereka itu membawa penyakit,” kata dia. Menyusul kejadian itu, beberapa pihak telah mencarikan tempat bagi mereka. Beberapa donatur bersedia menawarkan bantuan akomodasi bagi para petugas medis.

3. Perawat Ditampar saat Ingatkan Pakai Masker
Seorang perawat klinik berinisial HM mendapatkan tamparan usai mengingatkan seorang satpam supaya mengenakan masker saat berobat. Maksud baik sang perawat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 itu justru berujung penganiayaan.

B saat itu datang tanpa memakai masker. HM yang melihatnya kemudian mengingatkan B untuk memakai masker. Bukan berterima kasih, B justru menampar HM hingga perawat itu trauma dan mengalami pusing.

HM pun akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Semarang Timur. Ia berharap, semoga kejadian yang sama tak lagi terulang, lebih-lebih pada para tenaga medis sepertinya. “Tolong hargai profesi kami. Karena kami bekerja dengan hati ikhlas membantu masyarakat,” kata HM.

4. PDP Ancam Perawat dengan Pecahan Kaca
Seorang Pasien dalam Pengawasan (PDP) di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, Kalimantan Timur mengamuk, memecahkan kaca serta mendobrak pintu. Tak berhenti di situ, pasien juga melakukan ancaman pada perawat.

“Dia juga mengancam perawat pakai pecahan kaca,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Samarinda Osa Rafsodia, Sabtu (11/4/2020).

Setelah berhasil ditenangkan, pasien klaster Ijtima Ulama Gowa itu dipulangkan dengan catatan wajib mengisolasi diri di rumahnya. Osa mengatakan, pasien itu diisolasi mulai tanggal 8 April 2020 usai hasil rapid test menyatakan pasien reaktif terpapar virus corona.

Ia berharap, kasus ancaman hingga kekerasan pada perawat tak lagi terulang. Itulah kumpulan kisah para tenaga medis terutama perawat, selama pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here