Pemodal Selalu Menang Di Setiap Pilkada, Ah Masa’ Iya ?

infogeh.net, Bandar Lampung – Timeline facebook diramaikan dengan puluhan caption, atau lebih tepatnya celotehan beberapa politisi yang menyinggung kembali masalah kekuatan pemodal, kaderisasi partai dan prilaku transaksional, jual beli perahu dalam setiap perhelatan pilkada.

Yaa memang bila dicermati, beberapa komentar yang menanggapi caption dan celotehan terkait isu tersebut muaranya lebih kepada kritik konstruktif terhadap fungsi partai sebagai wadah kaderisasi pemimpin dari level daerah hingga pusat.

Contoh celotehan yang sempat saya catut 😎

“PARTAI POLITIK itu
BUKAN MERUPAKAN PERSEROAN TERBATAS
tetapi TEMPAT PENCETAK
UNTUK MELAHIRKAN KADER
PEMIMPIN BANGSA MELALUI
PARTAI YANG MENAUNGINYA”

Sepertinya sudah menjadi stigma mayoritas, kekuatan pemodal selalu mendominasi dalam setiap perhelatan pilkada.

Khusus di Provinsi Lampung misalnya, kadang  candaan, namun itu sudah menjadi semacam  pengakuan publik. Bahwa ketika perusahan X, Y sudah turun untuk memback up salah satu kandidat, maka bisa dipastikan itulah calon yang akan menang.

Dua pekan lalu sempat diskusi dengan salah satu ketua Partai. Bahwa di daerahnya, tanggal 9 Desember nanti kemungkinan akan ada 3 pasang bakal calon yang akan berkontestasi.

Survey terakhir menggambarkan, calon incumbent adalah pasangan yang paling di unggulkan. Tapi catatan beliau, bila nanti perusahaan X membackup salah satu calon penantang incumbent, maka bisa dipastikan pasangan tersebut yang kemungkinan berpeluang besar akan menang.

Kondisi ini tentu saja bila mau dijadikan alasan untuk berkontemplasi, merupakan alasan yang tepat. Bagaimanapun partai politik adalah lembaga legal yang diberikan wewenang penuh oleh undang-undang untuk melakukan kadersisasi dan konsolidasi calon  pemimpin. Jangan sampai orientasi ini melenceng dari yang sudah digariskan.

Bila mengaca dari kritik salah satu netizen diatas, jangan sampai partai politik yang sejatinya adalah organisasi nirlaba, berubah menjadi sebuah perseroran terbatas.

Tentu kita tidak ingin, sebuah narasi dan program, kemudian kredibilitas dari sosok calon pemimpin daerah yang berasal dari proses kadersisasi partai, kalah telak oleh nominal-nominal tertentu.

Tapi bukan juga berarti kita menafikan pentingnya peran pemodal bagi keberlangsungan sebuah partai dan tentunya proses pembangunan sebuah daerah.

Partai harus survive karena fungsi dan wewenang yang di embannya memang berat, mencetak kader pemimpin, sekaligus mencerdaskan masyarakat.

Negara dan daerah pun butuh support berupa investasi dari para pemodal untuk mengembangkan segala bentuk program, baik itu di sektor pembangunan fisik dan sumber daya manusia melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat

Bagaimanapun yang namanya, penguasa dan pengusaha itu memiliki sebuah titik temu dalam setiap proses memajukan sebuah negara, provinsi atau lebih kecil lagi pada level kabupaten dan kota.

Nah titik temu kita ada pada narasi dan program tadi. Penguasa dalam hal ini mau tidak mau memang diwakili oleh kelompok politik, harus mengedepankan aspek program pembangunan dan kesejahteraan masyarakat   dalam setiap jalinan kerjasama antara kelompok pengusaha tadi (pemodal)

Jadi ini bukan bab kalah menang antara penguasa dan pengusaha. Jalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Jangan terjebak pada politik dominasi. Ini bab sinergi dan saling mengisi 😎

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here