oleh

PDP Meninggal di Lampung Melibihi Pasien Positif Corona, Begini Penjelasan Dari Dinkes Lampung

infogeh.net, Bandar Lampung – Hingga Senin, 27 April 2020, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dunia di Lampung ada sebanyak 13 orang. Sedangkan pasien berstatus konfirmasi positif virus corona (Covid-19) yang wafat saat ini sebanyak 5 orang. Jumlah PDP yang meninggal dunia tersebut lebih banyak dari pasien positif corona. Apa penyebabnya?

“Apa yang menjadi penyebab jumlah PDP meninggal lebih banyak dari jumlah pasien terkonfirmasi positif yang meninggal? Apakah karena keterbatasan PCR (Polymerase chain reaction) yang membuat PDP terlambat dilakukan tindakan medis?,” kata Reihana, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung, saat membacakan salah satu pertanyaan dalam video conference, Minggu (26/4/2020).

Reihana lantas menjelaskan bahwa rata-rata PDP di Lampung memiliki penyakit penyerta yang lain. Sehingga, tidak murni hanya gejala seperti Covid-19.

“Nah, Kenapa kadang-kadang ada keterlambatan belum terkonfirmasi apakah dia positif atau negatif? Yang perlu diingat, PDP itu belum tentu dia seorang positif Covid-19. Ini karena ada jeda waktu menentukan dia positif atau negatif melalui pemeriksaan PCR,” kata Reihana yang juga Kepala Dinas Kesehatan Lampung.

Menurut Reihana alat PCR tersebut saat ini sedang dalam tahap pengiriman dari Kementerian BUMN.

“Insyaallah di akhir bulan (April) sudah datang alatnya. Kami juga sudah minta izin kepada Kementerian Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan PCR secara mandiri di Lampung. Karena tentu saja, kalau izin sudah keluar baru bisa melakukan pemeriksaan PCR sendiri,” kata Reihana.

Ia menjelaskan ada jeda waktu untuk menunggu hasil swab konfirmasi positif atau negatif dari laboratorium yang ada, baik dari Palembang maupun dari Jakarta.

Belum lagi, apabila reagen PCR habis atau tidak tersedia seperti beberapa waktu lalu sehingga harus kembali menunggu.

Sebenarnya, lanjut Reihana, apabila sudah ada PCR sendiri, waktu pemeriksaan hanya perlu sekitar satu jam untuk mengetahui apakah pasien itu terkonfirmasi positif atau negatif.

“Jadi itulah yang membuat kadang-kadang pasien yang meninggal dalam keadaan PDP. Karena semua PDP yang kami data punya penyakit penyerta. Jadi, tidak murni dia hanya seperti gejala Covid-19 saja,” lanjut Reihana.

Reihana tetap memastikan bahwa perawatan untuk pasien berstatus PDP dilakukan sama dengan pasien konfirmasi Covid-19.

“Tapi nggak usah khawatir karena semua PDP diperlakukan perawatannya sudah seperti pasien Covid-19. Dan kalau pun kita juga simak bahwa perlakuan terhadap positif covid-19 ini juga tidak ada perlakuan yang spesifik. Jadi seandainya dia panas diobati dengan obat panas, batuk dengan obat batuk, ada penyakit penyerta tentu diobati juga penyakit penyertanya,” jelas Reihana.

Komentar

Berita Terkait