Miris ! Warga Gunung Gijul Bopong Motor hingga ke Seberang Sungai

infogeh.net, Lampung Utara – Sarana dan prasarana di suatu wilayah sangatlah mutlak diperlukan bagi masyarakat. Terlebih jalan atau jembatan yang kerap kali mengalami kerusakan atau berubang luput perhatian dari pemerintah. Terlebih saat musim penghujan, suatu wilayah mengalami banjir, akses jalan yang terputus akibat jembatan tidak ada.

Seperti yang dialami oleh warga Desa Gunung Gijul, kecamatan Abung Tengah. Mereka harus bersabar ketika akan bekerja. Sebab jembatan tersebut yang sebelumnya telah rusak, kini tidak bisa dipakai. Warga terpaksa harus menyeberangi sungai.

Bahkan bila membawa kendaraan, maka harus dibopong hingga ke seberang sungai. Hal ini diungkapkan Dian Anggraini warga Desa Gunung Gijul, kecamatan Abung Tengah, Lampung Utara.

Di tempatnya, warga yang akan menyebrang ke desa lainnya, di musim penghujan harus melewati sungai. Karena tidak ada jembatan penghubung. Akibat derasnya aliran sungai, motor yang dikendarai warga terpaksa harus digotong oleh sejumlah orang yang diketahui merupakan warga desa tersebut.

Selain itu, putusnya jembatan penghubung utama Desa Gununggijul, menyulitkan warga dalam beraktivitas.

“Jembatan tidak ada, motor terpaksa dibopong warga,” ungkapnya, Rabu 10 Februari 2021.

Meskipun sudah hampir empat tahun jembatan terputus, warga yang berada di kawasan paling hulu Kecamatan tersebut masih harus bersabar.

“Beginilah kondisi kali penghubung Desa Gununggijul Subik pascahujan. Warga tidak bisa menyeberang arus kali yang deras,” katanya.

Dian berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan pihak-pihak terkait dapat memperhatikan kondisi di Gununggijul dan mempercepat pembangunan jembatan yang rusak tersebut.

Feri Ferdiansyah, kepala desa Gunung Gijul membenarkan hal tersebut. Awalnya ada jembatan di tempatnya. Namun saat tahun 2017 lalu, banjir yang menyebabkan jembatan ambruk. Tetapi, pada tahun 2018 sudah ada bangunan penyangga jembatan, yang hingga saat ini juga tidak juga dibangun.

“Kami kalau musim hujan ya harus seberangi sungai,” ujarnya.

Warga menjadi terisolir ketika musim hujan tiba. Jika menempuh jalur lainnya, warga terpaksa melewati jalan memutar sekitar 15 kilometer.

“Ada jalan, tapi memutar lewat kecamatan Abung Pekurun, sekitar 15 kilometer,” ujarnya seraya mengatakan ditempatnya ada 267 kepala keluarga yang terisolir akibat putusnya jembatan tersebut.

Berita dan info