Miris! Inilah Kondisi TPA Bakung Pembuangan Limbah Medis Rumah Sakit

infogeh.net, Bandar Lampung – Bau menyengat dari gunungan sampah, bercampur bau air lindi dari Instalasi Pembuatan Lumpur Tinja (IPTL) menyambut kedatangan kami di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung Kota Bandarlampung.

Terlihat puluhan orang tanpa menggunakan masker sibuk mensortir barang bekas yang bisa dijual kembali. Gerimis siang itu juga tak menghalangi mereka untuk terus memilah.

Dekat IPLT terlihat tumpukan plastik kuning tertulis infeksius yang terpisah dengan sampah rumah tangga lainnya. Terlihat beberapa plastik kuning telah dibuka oleh pemulung untuk mengambil barang bekas yang masih bernilai jual.

Salah satu pemulung, Adifan (35) mengaku hanya memilah botol minum plastik, botol infus, selang infus, suntikan, dan kardus kemasan obat dari plastik kuning tersebut. Tak jarang ia menemukan baju alat perlindungan diri (APD), masker, sarung tangan, yang bisa saja bekas penanganan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Gaklah ngapain takut (terpapar Covid-19), gak bisa makan nanti kalau takut. Mau pakek masker ya engap juga kalau kerja kayak gini. Gak bisa nafasnya,” ujar Adfan warga Keteguhan, Kota Bandarlampung.

Ia mengaku bisa mendapatkan Rp100 ribu per hari dari penjualan botol minum plastik (non medis), sementara untuk barang bekas medis bisa Rp800 ribu per dua minggu.

“Botol bekas infus bekas ini dijual dua minggu sekali dengan harga Rp 4 ribu per kilogram, ya rata-rata dapetlah Rp800 ribu,” ujarnya.

Baca Juga Yuk :  Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Terbaik di Lampung Ikuti Kejuaraan Karate International

Pria yang telah memiliki anak satu ini, mengaku sudah melakoni pekerjaan sebagai pemulung selama dua tahun lebih, dan selama itulah, Adifan selalu menemui limbah medis di TPA Bakung ini.

“Yang saya pulung ini limbah medis dari Rumah Sakit Urip Sumoharjo, ini mulai ada sebelum pandemi Covid-19. Saya sendiri yang minta ke sopirnya untuk dipisah, agar bisa saya pulung,” jelasnya.

Menurutnya, setiap hari Jumat sekitar pukul 18.00 atau 19.00 WIB, mobil pengangkut limbah medis RS Urip Sumoharjo membuang ke TPA Bakung.

“Mobil truk yang ada tulisan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandarlampung, tapi yang dump truk,” ujarnya.

Sementara, menurut pengakuan seorang pemulung lainnya yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan limbah medis yang dibuang di TPA Bakung bukan hanya berasal dari satu rumah sakit.

“Banyak yang buang di sini, rumah sakit daerah sampai klinik juga buangnya disini. Ya mau buang kemana lagi mereka kalau tidak disini,” ujarnya.

Ketika ditanya, apa buktinya rumah sakit sampai klinik membuang limbahnya ke TPA Bakung. Ia menerangkan bahwa ada label di limbah medis yang masih menempel.

“Kan di ujung infus itu ada namanya dari rumah sakit mananya. Bahkan ada air infusnya aja masih agak penuh,” jelasnya.

Untuk rumah sakit dan klinik yang membuang limbah medisnya di TPA Bakung biasanya dicampur dengan limbah rumah tangga.

“Kalau RS dan klinik itu buangnya di dekat jurang, dari sini masih masuk terus,” ujarnya.

Baca Juga Yuk :  Mahar Pilgub Rp 50 M, Beranikah KPK Hadirkan Ny Lee SGC ?

Saat dikonfirmasi bagian pendaftaran di RS. Urip Sumoharjo, Lia mengatakan, biasanya jika ada yang ingin melakukan informasi, Direktur RS harus tahu terlebih dahulu.

“Surati saja ke RS Urip, nantikan ada disposisi keluar. Karena biasanya seperti itu tidak bisa ngomong-ngomong langsung, karena segala informasi yang terkait dengan RS, direktur harus tahu dulu, baru disposisi ke siapa yang harus jawabnya,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung, Edwin Rusli mengatakan pihaknya akan mengecek terlebih dahulu apakah benar membuang limbah medis ke TPA Bakung.

“Nanti akan kami lihat dulu, karena sebelumnya tidak boleh dibuang sembarang gitu ya. Ini karena dia swasta nanti akan kita turun kesana. Kita akan berikan peringatan dulu,” jelasnya.

Lanjutnya, limbah medis harusnya ditampung dalam satu mobil. Mobil itu yang akan membawa ke Jakarta untuk dimusnahkan.

“Kita akan tangani dengan memberi teguran tertulis sampai 3 kali, kalau sampai ditutup nanti kita juga repot” ujarnya.

Edwin mengaku pihaknya rutin melakukan pengawasan setiap 3 bulan sekali kesemua rumah sakit, puskesmas dan klinik di Kota Bandarlampung.

“Nanti kita akan temui ketua yang membidangi itu, akan kita panggil bila perlu kita copot jika terbukti benar membuang limbah medis di TPA Bakung,” jelasnya.

Berita dan informasi ini diterbitkan terlebih dahulu dihalaman resmi rmollampung