Komnas PA Tolak Anak Dijadikan Komoditi Politik

GERBANGREPUBLIK.COM – (Bandar Lampung).  Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait berkunjung ke Provinsi Lampung bertepatan dengan Peringatan Hari Anak Nasional 2017 yang jatuh pada tanggal 23 Juli,(Minggu 23/07/2017).

Kedatangan Aris Merdeka Sirait atau akrab dipanggil Aris yang didampingi oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Lampung, Arianto Werta, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bandar Lampung, Toni Fisher dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lampung Timur, Roli Maeza  salah satunya untuk menemui Chusnunia Chalim selaku orang tua asuh dari AJ (10 th).

Saat dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Swiss Belhotel Lampung, Aris mengatakan kedatangannya ke Provinsi Lampung adalah dikarenakan mendengar adanya kegiatan aksi demo yang telah melibatkan anak serta mengeksploitasi anak.

“Saya mendengar ada suatu kegiatan aksi demo yang melibatkan anak dan mengeksploitasi anak untuk sumber dari orasi dalam menyampaikan aspirasinya kepada Bupati Lampung Timur.”

Masih kata Aris “Berdasarkan informasi dari orang tua korban serta berdasarkan beberapa informasi yang saya terima dan dokumen dokumen yang disampaikan kepada saya. Ini adalah sebuah perbuatan yang menurut saya sangat sadis, karena mencederai dan melukai hati anak. Di mana anak anak di pakai sebagai alat,”

Lebih lanjut Aris menyampaikan, “sekarang ini ada kasus di Lampung Timur itu, anak dipakai sebagai alat komoditi politik dari kelompok kelompok tertentu. Tentu ini harus di tolak. Komnas Perlindungan Anak tentu menolak ini, karena si pendemo atau orang orang yang menyampaikan aspirasi itu justeru mengeksploitasi anak secara terbuka, mengumumkan kepada publik tanpa izin dari anak itu sendiri sebagai sumber berita yang ingin disampaikan.”

Aris juga berpendapat bahwa aksi demo beberapa waktu lalu yang menuntut kejelasan status adopsi dari anak Bupati Lampung Timur adalah lebih cenderung kepada kegiatan politik dan bukan perjuangan membela hak anak.

“Bagi saya ini adalah kegiatan politik, dan bukan perjuangan membela hak anak. Karena anak itu di anggap untuk menekan kelompok tertentu, atau anak ini digunakan untuk menekan ibunya (Chusnunia). Jadi bukan untuk melindungi,” jelas Aris dihadapan awak media.

“Jadi ketika mengekspos itu adalah justeru mencederai dan melanggar hak anak. Oleh karena itu ini merupakan tindak pidana yang tidak bisa dibiarkan,” tambah Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak tersebut.(kemas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here