oleh

Inovasi Baru Limbah Pelastik di Olah Jadi Paving Blok

Lampura–(ZL),—-Sampah plastik merupakan salah satu persoalan global hingga saat ini. Plastik menjadi limbah yang merusak lingkungan disebabkan kandungan bahannya yang tidak dapat terurai. Begitu rumit untuk mengatasinya.

Namun, tidak demikian dengan warga yang ada di Dusun I Desa Sawojajar, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara.
Sampah plastik justru menjadi berkah berkat inovasi warganya dengan mendaur ulang menjadi paving block.

Menurut Kepala Dusun I, Desa Sawojajar, Abdul Ghofur, selama ini, warga di dusun tersebut mengelola bank sampah rumah tangga sebagai salah satu program yang dijadikan penghasilan warganya dalam bentuk sedekah paguyuban dan bagi hasil.

“Lalu, beberapa kerabat dalam satu perbincangan dengan saya, memberikan saran untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi paving block,” kata Abdul Ghofur, kepada sinarlampung.co, Kamis, 26 Maret 2020, di kediamannya yang saat ini dijadikan sebagai tempat pembuatan paving block berbahan baku limbah plastik.

Abdul Ghofur mengatakan, dari hasil obrolan dengan beberapa kerabatnya itulah yang kemudian dijadikan inspirasi serta motivasi untuk membuat inovasi tersebut.

“Saya dibantu dengan beberapa orang warga pun mulai mencari tahu dan melakukan ujicoba untuk membuat paving block dari plastik bekas sampah rumah tangga. Dan alhamdulillah hasilnya seperti yang dilihat saat ini, Mas,” katanya seraya menunjukkan sejumlah paving block buatannya.

Pria yang kerap disapa Om Gopung ini menyampaikan lebih lanjut, dalam satu kilogram sampah plastik dapat dijadikan satu buah paving block.

“Untuk kualitas kekuatannya, paving ini mampu menahan bobot satu unit mobil truck jenis Fuso yang bermuatan penuh. Paving ini tidak akan pecah seperti halnya paving berbahan baku semen jika digilas oleh kendaraan yang sama,” terang Om Gopung.

Dirinya juga menyampaikan, saat ini dirinya bersama beberapa warga Dusun I, Desa Sawojajar sedang merencanakan untuk melakukan produksi paving block plastik secara massal.

Nantinya, lanjut Gopung, dalam satu meter persegi dengan jumlah 28 buah paving block, akan dibanderol harga senilai Rp.90 ribu.

“Tapi saat ini, kami masih terkendala dengan alat pemanasan untuk mencairkan sampah plastik yang kemudian akan dicetak,” ujarnya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tutur Gopung, pemanasan plastik harus mencapai angka 100 derajat celsius.

“Dan ini membutuhkan alat pemanas khusus. Saat ini, kami mencairkan plastik masih dengan cara manual, yakni menggunakan kayu bakar, wajan bekas, serta alat pencetak paving,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, untuk satu unit alat pemanas dan alat pendukung lainnya diperkirakan membutuhkan biaya kurang lebih Rp.5 juta.

“Harapan saya, baik pamong desa maupun Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dapat memberikan solusi agar kami bisa mempunyai alat pemanas tersebut,” harap Gopung seraya menyampaikan dengan adanya alat tersebut tentu dapat memproduksi paving block plastik dengan lebih intens dan berkualitas prima. (ardi)

plastik merupakan salah satu persoalan global hingga saat ini. Plastik menjadi limbah yang merusak lingkungan disebabkan kandungan bahannya yang tidak dapat terurai. Begitu rumit untuk mengatasinya.

Namun, tidak demikian dengan warga yang ada di Dusun I Desa Sawojajar, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara.
Sampah plastik justru menjadi berkah berkat inovasi warganya dengan mendaur ulang menjadi paving block.

Menurut Kepala Dusun I, Desa Sawojajar, Abdul Ghofur, selama ini, warga di dusun tersebut mengelola bank sampah rumah tangga sebagai salah satu program yang dijadikan penghasilan warganya dalam bentuk sedekah paguyuban dan bagi hasil.

“Lalu, beberapa kerabat dalam satu perbincangan dengan saya, memberikan saran untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi paving block,” kata Abdul Ghofur, kepada sinarlampung.co, Kamis, 26 Maret 2020, di kediamannya yang saat ini dijadikan sebagai tempat pembuatan paving block berbahan baku limbah plastik.

Abdul Ghofur mengatakan, dari hasil obrolan dengan beberapa kerabatnya itulah yang kemudian dijadikan inspirasi serta motivasi untuk membuat inovasi tersebut.

“Saya dibantu dengan beberapa orang warga pun mulai mencari tahu dan melakukan ujicoba untuk membuat paving block dari plastik bekas sampah rumah tangga. Dan alhamdulillah hasilnya seperti yang dilihat saat ini, Mas,” katanya seraya menunjukkan sejumlah paving block buatannya.

Pria yang kerap disapa Om Gopung ini menyampaikan lebih lanjut, dalam satu kilogram sampah plastik dapat dijadikan satu buah paving block.

“Untuk kualitas kekuatannya, paving ini mampu menahan bobot satu unit mobil truck jenis Fuso yang bermuatan penuh. Paving ini tidak akan pecah seperti halnya paving berbahan baku semen jika digilas oleh kendaraan yang sama,” terang Om Gopung.

Dirinya juga menyampaikan, saat ini dirinya bersama beberapa warga Dusun I, Desa Sawojajar sedang merencanakan untuk melakukan produksi paving block plastik secara massal.

Nantinya, lanjut Gopung, dalam satu meter persegi dengan jumlah 28 buah paving block, akan dibanderol harga senilai Rp.90 ribu.

“Tapi saat ini, kami masih terkendala dengan alat pemanasan untuk mencairkan sampah plastik yang kemudian akan dicetak,” ujarnya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tutur Gopung, pemanasan plastik harus mencapai angka 100 derajat celsius.

“Dan ini membutuhkan alat pemanas khusus. Saat ini, kami mencairkan plastik masih dengan cara manual, yakni menggunakan kayu bakar, wajan bekas, serta alat pencetak paving,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, untuk satu unit alat pemanas dan alat pendukung lainnya diperkirakan membutuhkan biaya kurang lebih Rp.5 juta.

“Harapan saya, baik pamong desa maupun Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dapat memberikan solusi agar kami bisa mempunyai alat pemanas tersebut,” harap Gopung seraya menyampaikan dengan adanya alat tersebut tentu dapat memproduksi paving block plastik dengan lebih intens dan berkualitas prima. (ardi)

Komentar

Berita Terkait