Heboh! Jenazah Pasien Covid-19 Tertukar, Keluarga Ngamuk

Keluarga jenazah covid-19 mengamuk di TPU Kasin Kota Malang. (metrotv)

infogeh.net, Malang – Insiden jenazah pasien Covid-19 tertukar terjadi di Kota Malang. Akibatnya, salah satu anggota keluarga mengamuk hingga menganiaya petugas karena kuburan jenazah terpaksa dibongkar kembali.

Kejadian ini terungkap dari unggahan dua video amatir di media sosial. Dalam video berdurasi 28 detik dan 1 menit 58 detik itu, tampak seorang pria mengamuk mencari penanggung jawab pemulasaraan.

“Mana kordinatornya, mana tadi yang bilang bertanggung jawab. Tadi di rumah sakit marah-marah, saya cuma diam, sekarang mana tanggung jawabnya, ” teriaknya sambil mendatangi petugas pemakaman.

Sebelum mengamuk, pria ini sempat menganiaya salah satu petugas. Tampak juga terekam, seorang petugas pemakaman berbaju APD lengkap tergeletak dan mendapatkan pertolongan dari rekan-rekannya di pelataran Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin, Kota Malang.

Pihak keluarga menyebut ada kesengajaan dari Satgas Covid-19 mengulur waktu pemakaman. Sehingga terjadi insiden tertukarnya jenazah.

Terkait kejadian ini, pihak Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang mengklarifikasi kronologis insiden tertukarnya jenazah yang berujung pada kasus penganiayaan itu.

Kepala Bagian Humas Rumah Sakit Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, Dony Iryan,  menyebutkan jika insiden dalam tertukarnya jenazah covid-19 terjadi pada Kamis, 27 Januari 2021.

“Hari itu ada enam jenazah covid dan terduga covid-19  dijadwalkan dimakamkan di sejumlah lokasi berbeda di Kota Malang,” ujarnya.

Jenazah pertama dan kedua, lanjut Dony, dimakamkan sesuai jadwal pada Kamis pagi 27 Januari 2021. Kemudian sempat terjadi keributan, saat petugas memberangkatkan jenazah saat jenazah nomor 3 dan 5 dimakamkan di TPU Sukun.

“Di sini ada ketegangan karena keluarga pasien nomor 4 protes kenapa jenazah nomor 5 duluan. Alasannya karena efisiensi dan efektivitas, dua jenazah (3 dan 5) lokasi pemakamannya sama,” ujar Dony.

Setelah kembali dari TPU Sukun, seharusnya petugas mengambil jenazah nomor 4 untuk dimakamkan (TPU) Kasin, Kota Malang. Namun ternyata yang diambil jenazah nomor 6.

“Entah karena sudah capek, kepanasan dan emosi akhirnya jenazah nomor 6 yang diambil. Setelah sampai di TPU, keluarga jenazah tahu dan bertambah emosi sehingga terjadi gontok-gontakan itu, saya sendiri belum melihat videonya, katanya sudah masuk liang lahat, ” ujarnya.

Untuk menghindari kejadian serupa, Dony mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi. Salah satunya dengan memberikan penanda pada peti jenazah covid-19 lebih jelas.

“Selama ini kita pakai spidol permanen atau gelang tangan pasien semasa hidup dipaku di peti. Kita tidak pakai kertas karena khawatir rusak. Sebenarnya yang sebelumnya tidak pernah ada masalah, ” ujarnya.

Berita dan informasi ini diterbitkan terlebih dahulu dihalaman resmi Lampost.co