Budidaya Talas, Petani Lampung Timur Prospek Penghasilan yang Menjanjikan

infogeh.net, Lampung Timur – Sejumlah Petani di Lampung Timur mulai melirik untuk berbudidaya talas beneng. Tanaman ini dinilai mempunyai prospek yang cerah dalam mendapatkan penghasilan. Tanaman yang di kategorikan jenis umbi-umbian tersebut sudah ramai di budidaya para petani di Pandeglang, Provinsi Banten.

“(Talas beneng) mulai kita perkenalkan ke petani di Lampung Timur sudah 4 bulan lalu,” ujar Awang, Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Talas Beneng (Asputaben) Korwil Lampung, saat memberikan arahan kepada puluhan mitra baru petaninya di Desa Sumur Bandung Kecamatan Way Jepara, Minggu (31/1/2021).

Menurut Awang, budidaya talas beneng tersebut sangat mudah sekali dilakukan dan berprospek menjadi penghasilan yang menjanjikan bagi para petani di saat sekarang ini.

“Saat harga singkong, karet, hancur, semoga ini menjadi solusi bagi para petani saat pandemi ini,” katanya.

Awang juga mengatakan bahwa petani yang berbudidaya talas beneng pun tak perlu khawatir terkait pemasaran pasca-panen.

“Para petani yang bermitra, kami siap menampung hasil panennya,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa hasil panen talas beneng bukan hanya dari umbinya saja. Melainkan, daunnya juga memiliki nilai jual.

“Umbi untuk bahan makanan dan kita sudah MOU dengan perusahaan, sedangkan daun kita jadikan rajangan seperti tembakau. Semuanya kita ekspor ke beberapa negara seperti Belanda, Australia, Selandia Baru, dan lainya,” jelas Awang.

Menurut Awang cara buidaya talas beneng relatif mudah. Normalnya, dalam setiap hektar tanaman talas beneng membutuhkan sekitar 10 ribu bibit talas beneng dengan ukuran jarak tanam 1×1 meter. Kemudian, satu bibit dihargai Rp3.500 yang akan disediakan Asosiasi tersebut dengan jangka waktu panen 1 tahun hingga 1,5 tahun. Nantinya, hasil panen dapat dijual dengan harga sekitar Rp1.500/Kg.

“Satu tanaman umbinya bisa mencapai antara 20 hingga 50 Kg jika diusia panen antara 1 sampai 1,5 tahun,” jelasnya.

Setelah Usai penanaman 3 bulan, budidaya talas beneng juga sudah bisa panen dan daunnya dihargai Rp1.000/Kg.

“Jadi, sambil menunggu panen umbi, setiap bulanya petani bisa panen daun. Hal itu bisa menjadi pendapatan petani sambil menunggu panen umbi talas,” imbuhnya.

Sistem kemitraan yang dijalankan Asputaben tersebut adalah beli hasil. Dengan sistem petani beli bibit dari Asosiasi dan sebaliknya Asosiasi akan membeli hasil panen baik umbi dan daunnya.

“Regulasi market yang tertata dari sistem kemitraan ini demi menjaga pasar baik harga dan keamanan petani dari hulu ke hilir.”

Di Lampung Timur, ia menyebutkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 270 hektare yang mulai budidaya komoditi pertanian tersebut. Sedangkan target untuk budidaya mencapai 2.000 hektar.

Hariyanto, seorang petani di Lampung Timur menilai budidaya tanaman talas beneng bisa menjadi terobosan baru untuk mendapatkan penghasilan.

“Saya setiap tahun kemarin hancur saat budidaya tanaman bengkoang, waluh, apalagi singkong. Saya sudah siapkan lahan 3 hekatre untuk mulai berbudidaya talas beneng ini,” kata Hariyanto, petani asal Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur.