Bikin Lara! Sanggar Tari di Lampung Timur Ini Sepi Wisatawan

infogeh.net, Lampung Timur – Merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) terdampak nyaris di berbagai sektor. Tak terkecuali, mereka yang beraktivitas di sanggar tari. Salah satunya seperti yang dirasakan para penggiat sanggar tari di Kabupaten Lampung Timur. Di Sanggar Tari Bali yang berada di Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, kini tak ada lagi wisatawan yang datang.

Padahal, sebelum pandemi melanda, Sanggar Tari Bali yang digeluti puluhan anak-anak di desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) itu kerap menjadi tujuan para wisatawan.Wakil pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Braja Harjosari, I Wayan Toni Candra mengatakan sejak pandemi melanda hampir 10 bulan, sampai saat ini tak ada lagi wisatawan yang datang.

“Sebelum pandemi, tiap bulan itu pasti biasanya selalu ada wisatawan yang berkunjung,” kata I Wayan Toni, saat ditemui di Sanggar Tari Bali di Desa Braja Harjosari, Lampung Timur, Minggu (21/2/2021).

Baca Juga Yuk :  Pilu, Pengantin di Lampung Ini Menikah di Depan Jenazah, Begini Kisahnya

Menurutnya, Sanggar Tari yang berada di Dusun Gunung Agung itu kerap menjadi penyambut tamu wisata yang berkunjung. Dari situlah mereka kemudian mendapatkan pundi-pundi rupiah.

I Wayan Toni mengungkapkan bahwa Budaya Tari Bali yang mereka tampilkan termasuk dalam paket Desa Wisata yang disuguhkan jika ada wisatawan yang berkunjung ke wilayah tersebut.

“Namun, dalam menyambut tamu wisatawan, tetap yang kami utamakan dahulu adalah Tari Siger Pengunten dan Melinting karena ini kan di Lampung, jadi kita kenalkan Budaya Lampung. Walaupun mereka biasa menari Tarian Bali, tapi anak-anak juga bisa kok (Tari Siger Pengunten dan Melinting),” ungkapnya.

Baca Juga Yuk :  Horee!! Ini Dia Syarat Kendaraan yang Boleh Beli Pertalite Harga Premium di 27 SPBU Bandar Lampung

I Wayan mengatakan sebelum merebaknya pandemi corona, wisatawan yang datang ke wilayah tersebut berasal dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, India, Swiss dan Belgia.

Meski saat ini tak ada lagi wisatawan yang datang, namun para penggiat di sanggar tari tersebut tak pernah surut beraktivitas. Puluhan anak-anak yang tinggal di desa itu tetap berlatih untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif.

“Seminggu tiga kali kami tetap berlatih tari dan tentunya tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan. Kemudian, pada malam harinya, belajar bahasa Inggris karena sekolah pun diliburkan. Jadi untuk mengisi kegiatan yang positif,” ujarnya.

Berita dan informasi ini diterbitkan terlebih dahulu dihalaman resmi Lampung77