Sidang MK : Saksi 02 Klaim Temukan 10 Juta NIK Rekyasa di DPT

JAKARTA, infogeh.net – Kuasa hukum Prabowo-Sandi menghadirkan saksi yang bernama Idham Amiruddin dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK).

Idham yang mengaku berprofesi sebagai konsultan di bidang database, menemukan adanya NIK yang berkecamatan siluman, NIK rekayasa, pemilih ganda, dan pemilih bawah umur dalam DPT yang ia dapatkan dari Gerindra.

Untuk NIK rekayasa, Idham mengklaim menemukan sebanyak 10.901.719 data yang direkayasa dalam DPT. NIK rekayasa tersebut, kata Idham, merupakan NIK yang pengkodeannya tidak sesuai aturan yang ada di UU Administrasi Kependudukan.

“NIK rekayasa adalah NIK yang seluruh elemen datanya itu kelihatan benar, tapi salah. Misalnya yang perempuan tetapi dia memiliki NIK laki-laki dan sebaliknya. NIK perempuan itu tanggal lahirnya ditambah 40, jadi kalau lahirnya tanggal 1, pada NIK jadi 41,” ujar Idham di Gedung MK, Jakarta Pusat, Rabu (19/6).

“Jadi ada masalah kode laki dan perempuannya?” tanya hakim MK, Arief Hidayat.

“Betul. Lalu saya juga temukan tanggal dan bulan yang tidak sesuai. Jadi pada kolom tanda lahir itu ditulis A, tapi pada NIK tanggal lahir ditulis B. Tidak mungkin karena NIK tidak akan muncul sebelum tanda lahir di-entry,” jelas Idham.

Ia menyebut, data NIK rekayasa yang ia temukan itu paling banyak berada di Bogor dengan jumlah 437 ribu pemilih.

Selain itu, Idham juga menemukan adanya NIK yang kode kecamatannya siluman. Idham mengatakan, maksud NIK siluman itu yakni kode kecamatannya melampaui jumlah kecamatan di wilayah tertentu.

Saksi dari pihak BPN, Idham Amiruddin, memberikan keterangan pada sidang Sengketa Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Idham kemudian mencontohkan total kecamatan di Bogor berjumlah 40. Namun dari data yang ia dapatkan, terdapat pemilih di Bogor yang NIK kecamatannya 85. Ia menyebut NIK siluman itu berjumlah 56.832 di mana mayoritas berada di Bengkulu.

“Inilah yang disebut NIK berkecamatan siluman. Padahal bukan dari provinsi, kabupaten/kota, kecamatan itu. Sehingga ketika ada seseorang masuk datanya dalam dukcapil itu tinggal memilih tempat, tapi di komputer sudah ada datanya. di Bogor cuma ada 40 kecamatan yang bisa dipilih,” kata dia.

Selanjutnya ia juga menyebut ada pemilih ganda dalam DPT. Hal itu berdasarkan berdasarkan kesesuaian nama dan tanggal lahir di KTP. Menurutnya, ada 2 juta data ganda dalam DPT.

“Itu sebenarnya terjadi banyak di Papua,” ucapnya.

Terakhir, Idham menemukan banyak pemilih di DPT yang di bawah 17 tahun. Ia mencontohkan ada pemilih yang umurnya di DPT baru 1 tahun hingga 6 tahun.

“Kenapa ini jadi masalah? karena dalam KPU ada dua yang dipentingkan, status perkawinan dan usia pemilih. Yang penting usia, tapi ini dihilangkan (dalam DPT). Dulunya ada tapi sekarang tidak ada lagi,” ucapnya.

Ia menyebut dengan empat temuan itu, DPT yang dipakai untuk Pilpres 2019 rusak.

“Gambaran saya bahwa DPT pusat dari Aceh sampai Papua saya cuma gagal menelusuri 3 provinsi karena memang datanya tidak tercantum (yakni) Gorontalo, NTT, dan Maluku,” tutup Idham.

Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman dan Hakim I Dewa Gede Palguna pada sidang pemeriksaan saksi Sengketa Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Setelah menyampaikan keterangannya, Idham dicecar Komisioner KPU Viryan Azis soal NIK yang dinilai berkode kecamatan siluman.

Viryan bertanya apakah jika ada pemilih yang pindah pilih dari daerah tertentu ke Bogor, dimungkinkan kode kecamatan di NIK lebih dari 40. Idham pun tidak menjawab tegas.

“Apakah kalau NIK-nya misalnya 41 dan dari pindahan, apakah itu siluman?” tanya Viryan.

“Sekali lagi, kalau dia dari Bogor yang kecamatannya lebih banyak, maka kodenya bisa beda,” jawabnya.

Kemudian hakim MK I Dewa Gede Palguna mencoba menengahi. Palguna meminta ketegasan apakah kemungkinan seperti yang disampaikan Viryan bisa terjadi.

“Jadi bisa terjadi itu karena tidak tercover karena pindah?” tanya Palguna.

“Bisa terjadi,” jawabnya.

sumber : kumparan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.