infogeh.net, Opini – Tulisan ini berawal dari diskusi ringan dengan salah satu senior di pojokan Kota Bandar Lampung. Dalam diskusi tentang skema gerakan yang akan kami bangun, terdapat satu pembahasan yang rasanya menggelitik untuk coba saya tulis, yaitu tentang posisi mahasiswa. Hasil didikan Perguruan Tinggi hanya menjadi kaum elitis di tengah masyarakat. Setidaknya itulah point utamanya.

Sebelumnya kita mengenal salah satu point dari “Tridharma Perguruan Tinggi” adalah Pengabdian Kepada Masyarakat. Secara umum bisa kita artikan bahwa Perguruan Tinggi harus mampu memberikan sumbangsih nyata terhadap masyarakat, termasuk para mahasiswanya. Salah satu bentuk nyata dalam pengaplikasiannya adalah diadakannya program KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi setiap mahasiswa.

Melalui KKN ini idealny menjadi corong untuk mahasiswa mengenal bagaimana kehidupan di masyarakat. Mahasiswa di tuntuk untuk mampu beradaptasi dengan setiap aktivitas tempat ia melaksakan KKN. Membaur dengan seluruh aktivitas masyarakat yang ada. Dan yang lebih jauh tujuan dari KKN itu sendiri adalah membantu masyarakat tempat KKN untuk berkembang dan menjari sejahtera.

Alih-alih mensejahterkan masyarakat lokasi KKN tersebut, keberhasilan dari program KKN ini masih dalam persentasi rendah. “Bekas” yang berkesan dari program KKN ini lebih banyak kita lihat dalam bentuk gapura, dan plang nama jalan. Dalam hal ini KKN seolah hanya menjadi formalitas untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Karena memang KKN dijadikan salah satu prasyat wajib bagi mahasiswa sebelum membuat tugas akhir (Skripsi).

Disisi lain beban mata kuliah yang cukup berat mengharuskan sebagian besar mahasiswa terkurung dalam ruang kelas sebagai tempat belajar. Meskipun masih ada sebagian dari mahasiswa itu mencari wadah pembelejaran lain di luar kelas. Pada kelompok kedua ini kita mengenal dengan istilah para aktivis mahasiswa. Mereka biasanya bergerak dalam elemen-elemen gerakam mahasiswa baik dalam OKP, ataupun komunitas-komunitas yang mencakup berbagai macam hal.

Pada kelompok aktivis ini setidaknya kita masih bisa melihat harapan bahwa mahasiswa akan mampu membaur dengan masyarakat dan membantu masyarakat untuk maju. Namun sayang jika dilihat lebih jauh, kelompok aktivis ini terlihat seperti layu. Kelompok mahasiswa yang tergabung OKP yang sangat erat dikaitkan dengan isu-isu kenegaraan dan isu-isu politis malah sering di gambarkan bahwa mereka tidak ada bersama rakyat. Setidaknya hal ini bisa kita lihat dari maraknya tagar yang seolah mencari keberadaan mahasiswa saat ada isu-isu sensitif seperti kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu.

Harapan kedua yang muncul dari kelompok-kelompok mahasiswa yang membentuk komunitas yang memang sedang marak beberapa tahun kebelakang. Komunitas ini bergerak baik mulai bidang sosial sampai dengan isu lingkungan. Kelompok ini bak jamur di tengah musim hujan. Memang munculnya kelompok ini lebih banyak di minati mahasiswa yang dirasa lebih luwes dalam aplikasinya di tengah masyarakat, ketimbang mereka yabg bergerak di OKP. Harapan besar di kelompok kedua ini juga tidak bisa dikatakan sempurna. Terlihat bagaimana kelompok ini lebih banyak bergerak di daerah perkotaan yang kemudian segmentasi pelaksaanmya terlihat hanya mencakup kawasan-kawasan perkotaan itu sendiri.

Sebenarnya masih banyak contoh daripada keberadaan mahasiswa yang seolah menjadi elit di tengah masyarakatnya sendiri. Memang banyak faktor yang melatarbelakangi. Pengemesan mahasiswa yang di gadang-gadang sebagai “Agent Of Change, Iron Stock, dan Sosial Control” jangan sampai membungkus peran terpenting dari mahasiswa yakni sebagai elemen yang bisa menuangkan pengetahuannya di kampus untuk hal-hal berguna bagi masyarakat. Sebagaimana dikatan oleh salah satu bapak repulbik kita, Tan Malaka “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”

Sofwan Zulfikar S.Pd (KOPI Lampung)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.